..this is an article which i wrote and won a hotel voucher.. yipee!!
CINTA TUMBUH TANPA DISADARI
(Nathalie & Michael)
Setelah berpuluh-puluh kali berkenalan dengan berbagai macam orang, saya sudah tidak ada excitement atau pun keengganan untuk hal ini. Baik itu dengan cara blind date atau pun ketemuan bersama dengan orang yang mengenalkan. Yang selalu saya lakukan adalah berdoa sebelum pertemuan dan memohon agar Tuhan selalu menyertai dan melindungi saya serta membuka mata hati saya untuk dapat melihat apakah yang dikenalkan ini adalah jodoh saya atau bukan.
Saya dan Mickey (begitu saya biasa memanggilnya) dikenalkan oleh teman lama saya dan abang dari Michael, yang ternyata dulunya adalah teman satu kuliah. Setelah ber-sms dan saling telfon beberapa kali, kami janjian untuk bertemu setelah jam kantor di suatu mall di kawasan Jakarta Selatan. Pertemuan kami dilalui dengan makan malam di restoran sambil ngobrol-ngobrol yang tanpa disadari sudah banyak juga topik yang kami bicarakan dan semuanya mengalir lancar dan menyenangkan.
Pada pertemuan pertama itu, saya mendapat kesan bahwa dia orang yang baik dan enak diajak ngobrol. Tetapi, pada waktu itu saya juga merasa bahwa dia bukan tipe saya. Dengan perbedaan tinggi badan yang cukup menyolok, saya juga mulai berandai-andai lucu.. ‘kalau pacaran trus gua marah sama dia nanti bisa-bisa dia gua piting dong...’
Dengan berbekal pemikiran itu, saya membatasi waktu-waktu date kami dengan tidak mau diajak nge-date malam minggu dengan alasan saya tidak mau memberikan harapan kepadanya. Dan berbekal pemikiran itu pun saya menjadi yakin kalau dia itu enak dijadikan teman tapi saya sudah berpendapat ‘kalau sampai suatu saat dia ‘nembak’, akan saya tolak’.
Akhirnya saat itu tiba juga. Sepulangnya dari jalan-jalan, Mickey mengatakan bahwa dia suka sama saya. Setelah ia selesai menyatakan cintanya, dengan yakinnya saya menolak sehalus mungkin dan berpikiran kalau itu memang yang terbaik untuk kita berdua. Mickey terlihat sedih namun bersikap gentleman.
Sesampainya saya di kamar, yang terjadi adalah saya jadi termenung dan menjadi ragu atas keputusan saya tadi. Telah selang beberapa hari dan saya selalu menanyakan pada diri saya, bagi saya dia itu bagaimana orangnya? Jawaban yang saya dapatkan selalu adalah ‘dia bisa membuat saya tersenyum dan tertawa.. dia bisa membuat saya nyaman.. dia bisa membuat saya bersikap apa adanya..’ dan tanpa saya sadari, air mata berlinang di pipi.. dan saya pun menyadari betapa saya menyayanginya. Penyesalan memang datang setelahnya..
Setelah bertukar pikiran dengan teman, saya memutuskan untuk menghubunginya untuk bertemu dan menjelaskan duduk perkaranya dan berpasrah diri. Dan ternyata setelah pertemuan kami itu, hubungan kami menjadi lebih akrab dan lepas. Terlebih lagi, setelah beberapa situasi yang saya amati, saya menjadi yakin dengan dirinya bahwa dia dan saya dapat saling menerima diri kami apa adanya. Saya pun bertambah yakin bahwa saya sungguh mencintai pria ini dan ia dapat membuat saya bahagia. Dia sungguh mempunyai hati yang besar.
Tak lama setelah kami jalan bareng, tercetuslah keinginannya untuk menikahi saya. Namun menimbang keadaan waktu itu, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu beberapa saat untuk memberitahukan orang tua saya tentang niatnya menikahi saya. Akhirnya Mickey memberitahukan mereka pada acara makan malam untuk merayakan ulang tahunnya.
Setelah itu kami mulai merencanakan tanggal untuk acara adat, sakramen pernikahan dan resepsi. Dan dimulailah kesibukan-kesibukan dalam merencanakan hari istimewa yang akan kami kenang sepanjang masa itu dengan segala suka duka yang lazim terjadi pada kebanyakan proses persiapan pernikahan.
Jauh hari sebelum pernikahan, kami sudah merencanakan foto untuk pre-wedding. Karena suami saya lama tinggal di Yogya, ia ingin foto pre-wed kami berlokasi di sana. Maka pergilah kami ke sana dan janjian untuk bertemu dengan fotografer nya di Yogya. Hasilnya memuaskan dan saat pemotretannya pun sangat menyenangkan. Ada suatu lokasi pemotretan dimana saya dan Mickey harus menaiki tembok yang tinggi sekali, sedangkan saya termasuk orang yang takut akan ketinggian. Saya rasa saya tidak akan sanggup melakukannya kalau bukan karena Mickey yang berada disamping saya.
Beberapa bulan setelah acara foto pre-wed yang menyenangkan itu, tibalah saatnya untuk menjalankan acara pernikahan adat dari daerah suami saya (Batak Karo) yang sudah disederhanakan karena saya berasal dari keluarga Manado dan keluarganya memaklumi keadaan kami. Acara yang diadakan sekitar sebulan sebelum acara pernikahan di gereja itu berlangsung dari sekitar jam 4 sore dan berakhir sekitar jam 11 malam dan kami tidak mendapat makanan sampai jam 11 itu. Mungkin saking serunya, para panitia lupa untuk memberi kami makan. Baru setelah keluarga saya mengingatkan, mereka mengambilkan makanan yang sudah dingin dan keras dan menyuapkannya pada kami yang sudah kehilangan nafsu makan. Hari itu sangat melelahkan karena durasinya yang panjang dan atribut-atribut yang harus kami pakai di kepala sangat berat. Namun itu merupakan suatu hal baru dan unik bagi saya. Di situ saya belajar bagaimana menari ala Karo dan kami pun ‘ngamen’ dan semua tamu bersorak dan ikut menyanyi dan menari bersama kami. Perasaan lelah itu rasanya terbayarkan dengan melihat wajah para tamu yang berseri-seri.
Pada tanggal 27 November 2004 subuh, perias pengantin sudah sampai di rumah. Mami saya yang pertama dirias, setelah itu baru saya. Kedua fotografer juga sudah sampai di Rumah untuk memotret saya. Selama saya di rias, mereka asyik memotret sana sini sambil tak henti-hentinya kami bersenda gurau, membuat suasana santai dan saya pun melupakan ketegangan sesaat. Pengantin pria dating tepat waktu dan semua berjalan lancer. Flower girls yang lucu dan manis sudah siap bersama kami menunggu acara di mulai. Saat kami memasuki gereja, hati ini terasa damai dan sejuk.. dekorasinya begitu indah, seragam-seragam penerima tamu, orang tua serta para panitia terlihat indah.. acara berlangsung hikmad dan lancar. Setelah itu kami melanjutkan dengan acara makan-makan bersama keluarga di rumah suami saya.
Keesokan sorenya kami sudah kembali siap untuk berangkat ke acara resepsi kami. Hari itu hujan turun tidak terlalu deras. Kami tiba di gedung resepsi sore hari. Sebelum acara dimulai, kami berfoto studio dan makan terlebih dulu. Sekitar jam 7 kurang kami memulai acara dan sesampainya di pelaminan acara dibuka dengan sedikit kata sambutan dan doa. Acara lempar bunga diwarnai dengan kejadian lucu yang memeriahkan suasana, karena ketika kami melempar bunga, ternyata hand bouquet yang kami lempar mengenai kepala teman kantor saya yang sudah siap menangkap dan bunga itu pun membal dan ditankap oleh sepupu saya. Rasa lelah tidak terasa karena kami terhibur dengan para tamu yang tampaknya senang dengan pesta resepsi kami, dekorasi yang indah dan lagu-lagu jazz dan klasik yang dilantunkan penyanyi dengan baik. Karena kami juga ikut andil dalam pemilihan lagu dan mendesain dekorasi, rasa puas itu pun merebak di hati kami.
Selang beberapa hari untuk istirahat, kini tiba saatnya untuk bersenang-senang. Tujuan honeymoon kami adalah Bali. Tiga hari di Ubud (Hotel Kori Ubud) dan 2 hari di Kuta (Harris Hotel). Kami sangat senang bisa jalan-jalan dan menikmati keindahan Bali dari dua lokasi yang berbeda. Ubud dengan kesejukan dan kedamaiannya dan Kuta yang menyenangkan.
Setelah puas menjelajahi Bali dan menebar kenangan-kenangan manis, kini tiba saatnya untuk pulang ke Jakarta. Sedih rasanya harus meninggalkan pulau dewata itu.
Terlebih lagi karena pada saat kami mau pulang langit tiba-tiba gelap sekali pertanda hujan deras akan turun. Karena kami lupa untuk mengkonfirmasi ulang tiket kami, maka kami dicancel tanpa pemberitahuan, namun kami sudah harus keluar dari hotel. Maka kami berangkat ke airport dan diusahakan oleh agen kami untuk dapat naik pesawat sesuai yang kami pesan. Hati saya berdebar kencang melihat udara begitu buruk ditambah lagi saya memang sangat takut naik pesawat kalau ada goncangan yang bisa membuat saya mabuk. Saya bicarakan hal ini dengan Mickey dan mengatakan kalau memang tidak bisa dan harus menunggu pesawat berikutnya ya tidak apa-apa, apalagi udara begitu buruk dan mungkin ini pertanda dari Tuhan bahwa kita sebaiknya pulang terlambat. Hati ini sedikit lega karena kami sudah sepakat untuk tidak usah memaksakan diri pulang pada jam itu. Namun tiba-tiba agen kami datang tergopoh-gopoh dan mengatakan kalau kami harus segera menaiki pesawat karena akhirnya kami bisa dimasukkan dalam penerbangan yang sudah kami pesan itu. Debaran hati kembali kencang. Saya terus menundukkan kepala dan tak bisa bangun dari tempat duduk saat ada pengumuman bagi penumpang untuk menaiki pesawat. Setelah harus menaiki bus dan dipayungi oleh petugas untuk memasuki pesawat dari ekor pesawat karena derasnya hujan petir saat itu, akhirnya kami tiba di pesawat dan suami saya meminta tolong pada Bapak yang seharusnya duduk di sebelah saya (tempat duduk kami terpisah) supaya bertukar tempat duduk. Untungnya Bapak itu juga terpisah dengan saudaranya dan dia mau bertukar tempat duduk.
Syukur pada Tuhan yang maha kuasa, begitu pesawat yang kami tumpangi take-off, udara menjadi terang dan semuanya berjalan mulus sepanjang perjalanan.
Monday, 23 June 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment